Rabu, 06 November 2013

Pengendalian Hama " TIKUS " Pada Tanaman Jagung

Tanaman jagung yang diserang tikus biasanya ditanam pada lahan sawah setelah padi. Tikus tersebut adalah dari spesies Rattus argentiventer.
Tikus memiliki kemampuan indera yang sangat menunjang setiap aktivitas kehidupan nya. Di antara kelima organ inderanya, hanya penglihatan yang kurang baik, namun kekurangan ini ditutupi oleh indera lainnya yang berfungsi dengan baik.

Tikus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap cahaya. Meski indera penglihat annya kurang berfungsi, tikus mampu mengenali benda di depannya pada jarak 10 m.
Indera penciuman tikus berfungsi dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas tikus menggerak-gerakkan kepala dan mengendus pada saat mencium bau pakan, tikus lain, dan musuhnya.
Indera pendengarannya juga berfungsi dengan sempurna karena mampu mendengar suara pada frekwensi audibel (40 kHz), dan frekwensi ultrasonik (100 kHz).

Dengan indera perasa, tikus mampu mendeteksi zat yang pahit, beracun, atau tidak enak. Bulu-bulu pendek dan panjang yang tumbuh di antara rambut pada bagian tepi tubuhnya dimanfaatkan sebagai indera peraba untuk membantu pergerakan di tengah kegelapan (Rochman 1992).
Selain indera tersebut, tikus juga mempunyai beberapa kemampuan lain yaitu kemam puan menggali, memanjat, meloncat, mengerat, berenang, dan menyelam.

Tikus mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor, antara lain: matang seksual cepat (2-3 bulan), masa bunting singkat (21-23 hari), timbulnya birahi cepat (24-48 jam setelah melamelahirkan), melahirkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim, dan melahirkan keturunan dalam jumlah banyak (3-12 ekor dengan rata-rata enam ekor per kelahiran).
Tikus termasuk pemakan menyukai hampir semua makanan yang dimakan manu sia. Dalam kondisi cukup makanan, tikus beraktivitas sejauh rata-rata 30 m dan tidak pernah lebih dari 200 m. Jika kondisi tidak menguntungkan, jarak tempuh tikus dapat mencapai 700 m atau lebih.
Populasi tikus dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap dinamika populasi tikus adalah air dan sarang, sementara faktor biotik adalah tanaman dan hewan kecil sebagai sumber pakan, patogen, predator, tikus lain sebagai pesaing, dan manusia.

Gejala Serangan
Tikus biasanya menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pengi sian tongkol. Tongkol yang sedang matang susu dimakan oleh tikus sehin gga tongkol me njadi rusak. Umumnya tikus makan biji pada tongkol mulai dari ujung tongkol sampai pertengahan tongkol.

PengendalianHayati
Tikus dapat dikendalikan dengan memanfaatkan predator berupa kucing, Anjing, ular, burung elang, dan burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negatif terhadap manusia.

Sanitasi
Pembersihan dan penyempitan pematang atau tanggul dapat dilakukan untuk memba tasi tikus membuat sarang. Untuk itu pematang atau tanggul dibuat dengan lebar ku rang dari 40 cm.

Mekanik
Pemagaran pertanaman dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, atau gropyokan merupakan tindakan pengendalian mekanik yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi populasi tikus. Penggunaan bambu berukuran 2 m yang pada salah satu bubunya dilu bangi, kemudian diletakkan di pinggir pematang saat ter bentuknya tongkol sampai pa nen, dapat menipu tikus yang diduga sebagai lobang alamiah. Tikus yang terperangkap kemudian terus dibunuh .Pengusiran tikus dapat pula dilakukan dengan bunyi bunyian namun bersifat sementara karena setelah itu tikus akan kembali lagi ke pertanaman.

Kimiawi
Rodentisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan tikus umpan beracun. RMB yang banyak dipasarkan adalah Klerat, Storm, dan Ramortal. Emposan dengan menggunakan bahan fumigasi efektif menurunkan populasi tikus. Jenis bahan fumigasi yang biasa dipakai adalah hydrogen sianida, karbon monoksida, hidrogen fosfida, karbon dioksida, sulfur dioksida, dan metal bromida.
 
Sumber :
Deptan Republik Indonesia
Penulis: Yulia TS