Rabu, 06 November 2013

Pengendalian Hama " PENGGEREK BATANG " Pada Tanaman Jagung

Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis, Pyralidae: Lepidoptera) merupakan hama utama jagung di Asia. Serangga ini mempunyai lebih dari satu generasi dalam setahun karena didukung oleh curah hujan yang memberikan pengaruh penting pada aktivitas ngengat dan oviposisinya . Di lapang, imago mulai meletakkan telur pada tanaman yang berumur dua minggu. Puncak peletakan telur terjadi pada stadia pembentukan bungajantan sampai keluarnya bunga jantan. Serangga betina lebih suka meletakkan telur di bawah permukaan daun, terutama pada daun ke-5 sampai daun ke-9 (Jumlah telur yang diletakkan tiap kelompok beragam (Gambar 1), berkisar antara 30-50 butir atau bahkanlebih dari 90 butir (Kalshoven 1981). Seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 300-500 butir. Lama hidup erangga dewasa adalah 7-11hari (Lee et al. 1980). Di laboratorium, jumlah telur per kelompok beragam antara 1-200 butir (Ruhendi et al. 1985). 

Stadium telur 3-4 hari (Lee et al.1980).Instar I sesaat setelah menetas dari telur langsung menyebar ke bagian tanaman lain. Pada fase pembentukan bunga jantan, larva instar I-III akan memakan daun muda yang masih menggulung dan pada permukaan daun yang terlindung dari daun yang telah membuka. Pada fase lanjut tanaman jagung, sekitar 67-100% dari larva instar I dan II berada pada bunga jantan(Nafus and Schreiner 1987). Larva instar III sebagian besar berada padabunga jantan, meskipun sudah ada pada bagian tanaman lain. Instar IV-VImulai melubangi bagian di atas buku dan masuk ke dalam batang dan membor ke bagian atas. Dalam satu lubang dapat ditemukan lebih dari satu larva. Gambar memperlihatkan larva instar I-VI. Pada tongkol jagung juga sering ditemukan larva instar I-III dan makan pada ujung tongkol dan jambul. Instar berikutnya makan pada tongkol dan biji. Stadium larva adalah 17-30 hari.
 
Larva yang akan membentuk pupa membuat lubang keluar yang ditutup dengan lapisan epeidermis. Stadium pupa adalah 6-9 hari (Gambar 3).Serangga dewasa yang keluar dari pupa pada malam hari pukul 20.00- 22.00 akan langsung kawin dan meletakkan telur pada malam yang sama hingga satu minggu sesudahnya.
O. furnacalis ditemukan di Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, dan Australia (Mutuura and Munroe 1970). Di Indonesia, serangga ini menyebar luas di Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Sumatera (Waterhouse 1993).
 
Spesies ini selain menyerang jagung dan dapat pula menyerang tanaman lain seperti sorgum, kedelai, mangga, okra, tomat, tembakau, lada, tebu,kapas, jahe, dan rumput-rumputan (PGCPP 1987).
Gejala Serangan
Larva O. furnacalis menyerang semua bagian tanaman jagung. Kehilangan hasil terbesar dapat terjadi saat serangan tinggi pada fase reproduktif (Kalshoven 1981). Serangga ini mempunyai ciri khas serangan pada setiap bagian tanaman jagung, yaitu berupa lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tasselyang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak, dan rusaknya tongko jagung.
 
PengendalianHayati
Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid, cendawan, predator, bakteri, dan nema toda mampu menekan serangan . Parasitoid telur yang dapat menekan infestasi sera ngga ini adalah Trichogramma spp. T.evanescens efektif memarasit telur O. furnacalis di laboratorium dengan persentase parasitasi mencapai 97,68% melaporkan bahwa parasitasi parasitoid telur penggerek batang di daerah-daerah sentra produksi jagung di Sulawesi Selatan berkisar antara71,56-89,80%.
Cendawan yang berperan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae. Pada pengujian laboratorium,mortalitas larva instar II dari O. furnacalis yang diinokulasi cendawan B.bassiana dengan konsentrasi 5 x 107 onidia/ml mencapai 62,5%, instar III 55%, instar IV 57%, dan instar V 55%. Hal ini menunjukkan bahwa cendawan ini cukup efektif mengendalikan penggerek batang jagung. 

Pengujian dilapang menunjukkan bahwa cendawan M. anisopliae mampu mengendalikan Peng gerek batang yang terindikasi dari rendahnya kerusakan daun
(13,3%) dan bunga jantan (5,3%) dibanding kontrol dengan kerusakan daun dan bunga jantan masing-masing mencapai 24,3% dan 27,0% pada 6 MST. Predator yang biasa memangsa hama penggerek batang jagung adalah Micraspis sp. dan Cecopet Euborellia annulata). (Laba-laba dari famili Argiopidae, Oxyopidae, dan Theriidae dan semut Solenopsis germinate memangsa larva muda hama penggerek .Bakteri yang digunakan untuk mengendalikan spesies ini adalah Bacillus thuringiensis subspecies Kurstaki. Nematoda dari famili Steinernematidae juga efektif mengendalikan O. furna calis (Ching et al. 1998).
 
Kultur Teknis/Pola Tanam
Serangan penggerek batang berfluktuasi dari waktu ke waktu. Waktu tanam yang baik untuk menghindari serangan penggerek batang adalah pada awal musim hujan, dan paling lambat empat minggu sejak mulai musim hujan.
Kultur teknis berupa tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah akan mengurangi tingkat serangan (Hasse and Litsinger 1980). Hasil penelitian Nafus dan Schreiner, (1987) menunjukkan bahwa 40-70% larva berada pada bunga jantan, sehingga pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris) dapat menekan serangan penggerek batang.
 
Kimiawi
Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, dikhlorofos, dan karbofuran efektif menekan serangan penggerek batang jagung .
Aplikasi insektisida dianjurkan apabila telah ditemukan satu kelompok telur per 30 tanaman.Insektisida cair atau semprotan hanya efektif pada fase telur dan larva instrar I-III, sebelum larva masuk ke dalam batang. Pengendalian dengan insektisida granul yang bersifat sistemik yang diaplikasikan melalui pucuk daun atau akar dapat mengen dalikan penggerek batang pada semua stadium. 

Sumber :
Deptan Republik Indonesia
Penulis: Yulia TS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar dan informasi tambahan dari pembaca.
Salam kami : bns_indonesia