Jumat, 15 Maret 2013


PANEN RAYA JAGUNG

DI KABUPATEN PAMEKASAN MADURA



Panen Jagung Hibrida Meningkat



Maret 2013
KOTA-Produktivitas jagung hibrida tampaknya cukup menjanjikan untuk dikembangkan petani Madura khususnya Pamekasan. Dari hasil uji coba jagung pabrikan itu, ternyata hasil panen cukup melimpah. Seperti yang bisa disaksikan di lahan pertanian Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, kemarin (5/3). Dalam acara yang dikemas dengan Pioner 4 itu, mengundang Bupati Kholilurrahman, Gubernur Jatim Soekarwo, Dirjen Tanaman Pangan Udhoro Kasih Anggoro, Bupati se-Madura beserta SKPD terkait di Pemkab Pamekasan.
Di acara itu, bupati Pamekasan diwakili Plt Sekda Herman Kusnadi membuka hasil panen perdana jagung hibrida. Mewakili bupati, Herman menjelaskan, hasil panen perdana jagung hibrida menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Buktinya, tahun ini produktivitas tanaman jagung hibrida meningkat pesat. Itu juga berdasar perbandingan selama 3 tahun terakhir. Pada 2010, jelas Herman, produksi jagung hibrida mencapai 144.904 ton, pada 2012, produktivitas itu naik menjadi 146.515 ton.
Sehingga ada kenaikan cukup signifikan dari komoditas pangan jenis jagung hibrida. Bahkan pada 2012, produksi jagung hibrida mampu mencapai 149.942 ton. ”Bisa dibandingkan dengan hasil jagung lokal. Dalam satu hektare lahan, jagung lokal hanya mampu memproduksi jagung sebanyak 1-2,5 ton. Sementara jagung hibrida mampu menghasilkan 6-8 ton. Ini buktinya, hasil panen perdana ini mampu menghasilkan jagung hibrida sebesar 7,5 ton dalam satu hektare lahan,” tuturnya.
Namun perlu disadari, lanjut Herman, capaian itu masih tergolong rendah. Pasalnya, mayoritas petani jagung masih bergantung pada tanaman jenis jagung lokal yang tingkat produktivitasnya rendah, yakni sekitar Rp 2,36 ton. Padahal luas panen pada 2012 seluas 45.846 hektare (Ha). Rinciannya, sambung Herman, tanaman jagung lokal seluas 39.129 Ha atau 85 persen dari total luas lahan yang tersedia. Semenatara itu, sisanya seluas 6.717 Ha atau sebesar 14,65 persen ditanami jagung hibrida.
Dengan catatan, harga per kilonya Rp 3.000-3.500. Kendala lainnya, terkait biaya produksi yang cukup mahal terutama harga bibit dan kebutuhan pupuk. Bahkan, lanjut Herman, untuk kelembagaan petani tercatat sebanyak 973 kelompok tani, sedangkan jumlah penyuluh pertanian hanya 104 orang. Di antaranya penyuluh PNS 44 orang dan penyuluh THL-TB (tenaga harian lepas-tenaga bantu) 60 orang di samping itu tenaga pengamat organisme pengganggu tanaman 9 orang.
Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Kementan (TPK) RI dalam sambutannya kemarin menyatakan, komoditas jagung dari Jatim hanya mampu memberikan kontribusi 13 persen dari luas lahan 30 persen se-Indonesia. Dia menyatakan, potensi besar itu masih belum tergarap secara maksimal. Faktor yang menjadi kendala bisa terkait dengan modal dan pemasaran. Hasil uji coba 1.000 hektare di Desa Motok, Kecamatan Larangan, dalam satu hektare mampu menghasilkan panen 7 ton. Jika dirupiahkan sekitar Rp 4 juta dengan harga dasar per kilo Rp 2.500. Sementara jagung lokal hanya mampu menghasilkan maksimal 1,5 ton. (radar)
sumber : http://www.maduraterkini.info/berita-pamekasan/