Jumat, 15 Maret 2013

HARGA BELI JAGUNG OLEH INDUSTRI PAKAN TERNAK BELUM NAIK, TAPI HARGA JAGUNG DI TINGKAT PETANI DAN PEDAGANG PENGEPUL SUDAH NAIK LEBIH TINGGI



Emiten Pakan Ternak Belum Naikkan Harga Jual Dalam Waktu Dekat

JAKARTA, - Fluktuasi harga jagung dan kedelai tidak akan berpengaruh terlalu besar terhadap harga pakan ternak. Beberapa emiten peternakan belum merencanakan peningkatan harga jual pakan dalam waktu dekat karena sudah menyiapkan stok bahan baku sebelum harga jagung dan kedelai naik.

Elies Lestari, Sekretaris Perusahaan PT Sierad Produce Tbk (SIPD), mengaku telah melakukan pembelian jagung beberapa bulan sebelumnya. Kebutuhan jagung Sierad tahun ini diperkirakan mencapai 250 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan produksi pakan ternak sebesar 500 ribu ton. Kebutuhan jagung ini akan disesuaikan dengan produksi pakan ternak  yang tumbuh 20% setiap tahun. “Kami bisa saja menyiapkan stok bahan baku untuk enam bulan mendatang,” kata dia

Tahun ini, rata-rata harga pakan ternak perusahaan berkisar Rp 4.500-Rp 5.000 per kilogram. Elies mengatakan kenaikan harga pakan ternak bergantung kepada kondisi pasar.

Pada semester I 2011, beban pokok penjualan perusahaan naik 16,1% menjadi Rp 1,83 triliun dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 1,58 triliun. Kontribusi terbesar beban pokok penjualan berasal dari pembelian bahan baku yang mencapai Rp 1,7 triliun.

Rudy Hartono, Sekretaris Perusahaan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), menyatakan akan menyesuaikan kenaikan harga jagung internasional dengan harga jual pakan ternak perusahaan. Hal ini dilakukan supaya margin tetap terjaga. Perusahaan menargetkan produksi pakan ternak tumbuh 10%-15% per tahun dari saat ini 900 ribu ton.

Sudirman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak, menjelaskan produsen pakan ternak tidak dapat melakukan apa-apa terhadap fluktuasi harga komoditas saat ini.  Masalah berat lainnya adalah pelaku industri pakan ternak dihadapkan kepada volatilitas rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan perhitungan Asosiasi, kenaikan harga jagung impor sebesar Rp 100 per kilogram dapat meningkatkan harga jual pakan ternak sekitar Rp 50 per kilogram. Campuran bahan baku lain  dalam pakan ternak seperti bekatul juga berpengaruh. Harga produk ini sekarang adalah Rp 3.000 per kilogram, naik dibandingkan tahun lalu Rp 1.500 per kilogram.

Kebutuhan industri pakan ternak terhadap jagung setiap tahun mencapai lima juta ton yang hampir 50% dikontribusikan dari jagung impor. Sampai Agustus, volume impor jagung telah mencapai 2,2 juta ton.
Sudirman memperkirakan sisa jagung impor yang akan masuk sampai akhir tahun sekitar 300 ribu ton. Impor jagung lebih rendah karena pelaku industri pakan ternak telah memiliki stok jagung.

Pasokan Rendah

Tingginya impor jagung akibat rendahnya pasokan dari dalam negeri. Hal ini terbukti dari harga jagung di tingkat pabrik  yang berkisar Rp 3.000 per kilogram, lebih tinggi dari tahun lalu Rp 2.400 per kilogram. Produsen pakan ternak membeli jagung lokal dari beberapa daerah sentra produksi seperti Medan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Ong Mei Sian, Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), menyatakan akan mengikuti pergerakan harga jagung internasional  yang disesuaikan dengan harga pakan ternak. Pengaruh harga pakan di pasar menjadi  referensi perusahaan menentukan harga. Apalagi, konsumen mengikuti pergerakan harga  jagung di pasar internasional.

Rata-rata harga jual pakan ternak saat ini Rp 4.500-Rp 5.000 per kilogram. Perusahaan sulit menentukan pengaruh kenaikan harga jagung terhadap beban pokok penjualan  di semester II karena bahan baku pakan ternak tidak terbatas kepada jagung melainkan bercampur dengan bahan baku lain.

Berdasarkan laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) tanggal 12 September 2011, produksi jagung negara itu turun dibanding proyeksi Agustus. Produksi tanaman jagung Amerika Serikat saat ini di proyeksi mencapai 12,497 miliar bushel, sekitar 50 juta bushel lebih besar dari tahun 2010.

Namun, proyeksi tersebut 417 juta bushel lebih rendah dari bulan Agustus. Musim panas terpanas sejak tahun 1955 di Iowa dan Illinois mengikis prospek tanaman jagung dan kedelai di Amerika Serikat. Rata-rata hasil panen Amerika Serikat turun dari 153 bushel per hektare menjadi 148 bushel per hektare.

Dengan proyeksi penurunan produksi, estimasi level konsumsi dan persediaan juga diturunkan. Konsumsi untuk domestik turun 300 juta bushel dan konsumsi untuk ekspor turun 100 juta bushel dibanding proyeksi Agustus.

Harga Jagung sudah melonjak 21% sejak 1 Juli dan mencatat harga tertinggi di level US$ 7,75/bushel pada 30 Agustus setelah tanaman di bagian Midwest rusak oleh suhu di atas 32 derajat celcius selama lebih dari 35 hari. Menurut Departemen Riset IFT, dengan perkiraan penurunan produksi akibat cuaca yang kurang mendukung, harga jagung akan tetap tinggi tahun ini.

Sementara produksi tanaman kedelai di Amerika Serikat tahun ini diperkirakan akan mencapai 3,085 miliar bushel, 244 juta bushel lebih rendah dari 2010. Namun, proyeksi di bulan september lebih tinggi 29 juta dari proyeksi Agustus karena hasil panen yang meningkat dari 41,4 bushel per hektare menjadi 41,8 bushel per hektare.Proyeksi produksi kedelai di luar Amerika Serikat meningkat tipis sebesar 0,4%. Namun, persedian tersebut diperkirakan akan lebih kecil dibanding awal tahun.

Menurut laporan USDA, harga kedelai di perkirakan akan berkisar di antara US$ 12,65–US$ 14,65 per bushel pada 2011/2012 ditopang oleh kenaikan harga jagung. Harga kedelai sudah meningkat 5% sejak 1 Juli dan mencatat harga tertinggi selama lima minggu terakhir di level US$ 14,49 per bushel pada 31 Agustus.

Menurut Departemen Riset IFT, laporan USDA di bulan September ini negatif untuk prospek harga kedelai dalam jangka pendek. Namun, produksi kedelai yang diperkirakan masih akan lebih rendah dari tahun 2010 dan ketidakpastian cuaca yang kemungkinan akan menurunkan estimasi produksi di bulan Oktober akan membatasi penurunan harga kedelai di level yang relatif tinggi sampai akhir tahun ini.