Sabtu, 06 Juli 2013

Sarana dan Fasilitas Penjemuran Jagung


Penjemuran jagung langsung di lapang dengan bantuan sinar matahari umumnya diberlakukan pada tongkol yang masih berkelobot maupun yang
sudah dikupas kelobotnya.

Efektivitas penjemuran bahan ditentukan oleh:
(a) tingkat pengeringan, 
(b) lokasi penjemuran, dan 
(c) posisi bahan dari penyinaran matahari (Muhlbauer 1983).

Beberapa fasilitas penjemuran yang ada di tingkat petani adalah: 
(a) tanpa alas jemur, bahan langsung dikeringkan di atas tanah atau di tepi jalan aspal, 
(b) anyaman bambu, 
(c) lembaran plastik atau terpal, dan 
(d) lantai jemur.

Penjemuran tanpa alas, murah dan mudah dilakukan petani.
Tempat penjemuran yang dipilih umumnya di tepi jalan beraspal. 
Kelemahan cara penjemuran ini adalah mengganggu pengguna jalan dan tercampurnya bahan oleh benda asing (kerikil, tanah atau kotoran) sehingga menurunkan kualitas bahan.
 
Hasil survei terhadap 60 petani responden di Lampung menunjukkan 9,3% petani menjemur jagung tanpa alas. 
Di Kediri tidak satu pun petani responden yang menjemur jagung tanpa alas (Dharmaputra et al. 1996, Prastowo et al. 1998). 
Menjemur tanpa alas menyebabkan jagung tercampur dengan benda asing sehingga menurunkan harga jual atau memerlukan tambahan biaya untuk memisahkan campuran kotoran (Prastowo et al. 1998).

Penjemuran dengan alas anyaman bambu didapatkan benda asing 7,7% dan 1,2% masing-masing di Lampung dan Kediri (Dharmaputra et al. 1996).
Penjemuran dengan alas plastik atau terpal masih banyak dilakukan petani di Lampung (13,9%) dibanding dengan petani di Kediri (2,4%). 

Petani di Kediri lebih banyak menggunakan alas plastik atau terpal untuk menjemur jagung yang masih dalam bentuk gelondongan. Penjemuran dalam bentuk gelondongan dilakukan selama dua hari, kemudian dipipil dan dijemur lagi dalam bentuk pipilan selama dua hari. 
Penggunaan alas plastik lebih disenangi karena mudah diperoleh dan mudah dilipat. Cara lain yang dilakukan oleh petani adalah menjemur jagung dalam karung plastik selama satu hari, kemudian dipipil (Prastowo et al. 1998).



Pengeringan jagung di lantai jemur banyak diminati petani karena konstruksi pembuatan dan pengoperasiannya mudah dan relatif lebih cepat kering dibanding menggunakan alas tikar plastik. 
Ukuran luas lantai jemur dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan biaya pembuatan, namun
yang penting diperhatikan adalah dimensi lebar dan tebal lantai tempat menaruh bahan yang dikeringkan.

Kelemahan dari lantai jemur adalah memerlukan lahan yang cukup luas, sesuai dengan jumlah bahan yang akan dikeringkan. Selain itu, cara penjemuran ini tidak efektif digunakan pada musim hujan. Ketebalan bahan yang disarankan adalah 10-15 cm. 
Pengeringan biji pipilan dengan cara penjemuran pada musim kemarau memerlukan waktu 6,5 jam untuk menurunkan kadar air biji dari 15% ke 13% .