Kamis, 23 Mei 2013

Peternak Ayam Petelur di Sumatera Barat Membutuhkan Jagung Sebanyak 354,5 TON per Hari

Pengolahan pasca panen komoditi jagung di BNS Kudus
Puluhan peternak ayam yang tergabung dalam Persatuan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) dan Asosiasi Peternak Petelur Sumatera Barat (APPSB), Rabu (22/5) pagi, menggelar diskusi terbatas, terkait harga pakan ternak yang semakin mahal dan kebutuhan jagung untuk 7,1 juta ekor ayam petelur yang tidak kunjung terpenuhi.

Diskusi sambil minum kopi pagi itu berlangsung di Bofet Pergaulan Payakumbuh. Hadir dalam diskusi tersebut, Ketua Persatuan Peternak Ung­gas Indonesia (PPUI) Su­ma­tera Barat Haji Khazanatul Israr dan Ketua Asosiasi Peter­nak Ayam Petelur Sumatera Barat Haji Akmal.

Bersama mereka, tampak pula sejumlah pengusaha pe­ter­nak ayam petelur di Paya­kumbuh dan Limapuluh Kota, seperti H Melfa Saukani, drh Dodi Mulyadi, drh Amir Muk­minin, Haji Famusri, Haji Donal, Haji Zil, Haji Ermal, Haji Anton, Roni Anas, Per­dana “Agung” Agusta, Datuk Feri, Yon Fitri, Husman, Yudi, Gema, Israr, Eri Hargia, dan Endi Kembar. 

Mengawali diskusi, para peternak atau pengusaha pe­ter­nakan ayam petelur yang menguasai “urat nadi” per­ekonomian Kabupaten Lima­puluh Kota dan Kota Paya­kumbuh, saling curhat tentang harga pakan ternak yang se­makin mahal, sementara harga telur cenderung fluktuatif.
Tidak sekadar curhat, se­jum­lah peternak yang meng­gengam iPhad dan BlackBerry di tangan mereka, mem­ban­dingkan harga pakan ternak di Sumatera Barat, dengan harga di daerah lain yang menjadi sentral ayam petelur di Indonesia, termasuk Blitar, Medan dan Jakarta.

Menurut Haji Akmal, pe­netapan harga pakan ternak oleh pabrik ataupun distributor, memang cenderung berva­riatif. Karena itu para peternak sepakat, untuk mencari data har­ga yang paling akurat, seba­gai pe­doman atau acuan bagi mereka.
Bukan itu saja, para peter­nak berencana pula meng­undang pihak pabrik, untuk membuat kesepakatan pem­belian harga pakan. “Harus ada kesepakatan yang kita buat dengan pabrikan, terkait harga pakan ternak. Sehingga, harga tetap stabil, baik di kala telur mahal, ataupun saat harga telur anjlok,” tukuk drh Doddi.

Di samping persoalan pa­kan ternak, para peternak yang  menghadiri diskusi de­ngan “menunggangi” berbagai  jenis mobil mewah, mengaku masih kesulitan dalam men­dapatkan jagung untuk me­menuhi kebutuhan jutaan ekor ayam peliharaan mereka.

Berdasarkan estimasi para peternak,  saat ini di Sumatera Barat, terdapat sekitar 7,1 juta ekor ayam petelur (tidak ter­masuk ayam kampung dan ayam arab). Sebanyak 75 per­sen di antaranya, berada di Li­ma­puluh Kota dan Pay­a­kumbuh.

Sekitar 7,1 juta ekor ayam petelur itu, membutuhkan jagung sebanyak 354,5 ton per harinya. Kebutuhan ini, sam­pai sekarang, masih belum terpe­nuhi. Walaupun Dinas Tanaman Pangan dan Holti­kultura terus mengklaim, Sum­bar telah surplus jagung,” kata H Khazanatul Israr.

Kondisi ini pula yang mem­buat para peternak ayam pe­telur, berencana menemui Gubernur Sumbar Irwan Pra­yitno dan DPRD Sumbar di Padang. “Kita akan temui Gu­bernur dan DPRD, untuk de­ngar pendapat, terkait kebu­tuhan jagung yang belum ter­penuhi,” ujar Haji Khazanatul Israr  yang juga owner Cipen­dawa Group Payakumbuh.

Selain berencana meng­adukan persoalan jagung yang belum terpenuhi, para peter­nak ayam petelur, seba­gai­mana disampaikan Haji Akmal dan Haji Melfa Saukani, akan mengusulkan kepada Pem­prov Sumbar dan  DPRD Sum­bar, agar dapat mener­bitkan regulasi tentang standarisasi  harga jagung.

“Kita akan usulkan kepada Pemprov Sumbar dan DPRD Sumbar, agar membuat stan­darisasi harga jagung. Dengan pertimbangan, harga jagung Medan ditambah Lampung dibagi dua, dengan kadar air 17-18 persen. Sementara, buat teman-teman peternak, kita minta, agar ikut dalam usaha membudidayakan jagung,” ujar Haji Akmal dan Haji Melfa Saukani.

Rambah Pasar Jakarta
Menariknya, mesti sedang dipusingkan dengan harga pakan ternak yang semakin melangit dan kebutuhan ja­gung yang belum terpenuhi, para peternak ayam dari Ka­bupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh, ternyata tidak kehilangan kreatifitas dan naluri bisnis.
Toh buktinya, sejak tiga bulan terakhir, sekitar delapan peternak, sudah mulai me­ngem­bangkan usaha ke Ibu Kota Jakarta, dengan mengi­rim tujuh truk telur setiap minggunya. Dimana masing-masing truk, bermuatan 108 ribu butir telur.

Delapan peternak yang mulai merambah pasar telur Jakarta itu adalah Haji Akmal, Haji Herman, Haji Zil, Yon Fitri, Risman dan Perdana Agusta atau Agung. Menurut Haji Akmal, pilihan mengem­bangkan bisnis telur ke Ibu­kota Jakarta, mereka lakukan, karena populasi ayam yang semakin banyak.
“Populasi ayam petelur, semakin banyak. Sementara, konsumsi telur di Sumbar, Riau dan Jambi, tidak meng­alami peningkatan yang signi­fikan. Sehingga, membuat kami ber­inisiatif membuka pasar telur sendiri,” kata Haji Akmal.

Rupanya, akses  yang dibu­ka para peternak ayam dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota ke Jakarta, cukup menge­jutkan pasar telur ibukota negara. Bahkan, saat peternak mengirim telur sekaligus, Ja­karta menjadi kebanjiran telur, sehingga harganya pun ikut anjlok.
Lantaran itu pula, peternak ayam dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota yang masih menjaga etika bisnis, meng­atur ritme pengiriman telur ke Jakarta.  Jika awalnya, sekali tiga hari, kini jadi sekali se­minggu. “Kami juga tidak ingin merusak pasar  telur di sana,” kata peternak ayam, meng­akhiri diskusi.

Sumber : www.padangekspres.co.id via http://www.pasarjagung.com/