Selasa, 28 Mei 2013

Harga Jagung Dipengaruhi Oleh Perubahan Struktur Permintaan Jagung

Semakin sedikit orang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok
Sebelum tahun 1980an jagung dikenal sebagai komoditas pangan utama
setelah beras, karena merupakan makanan pokok sebagian penduduk
Indonesia seperti di Madura, beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur,
Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan beberapa kabupaten di
Sulawesi. Dengan berkembangnya industri peternakan maka terjadi
perubahan pola komsumsi jagung di Indonesia.

Berdasarkan perkiraan USDA (PSD 2006), konsumsi jagung untuk pakan pada tahun 1982 baru mencapai 867.000 ton (19% dari total produksi jagung dalam negeri). Angka ini meningkat menjadi 3,27 juta ton pada tahun 1998 (42,1% dari total produksi) dan 3,75 juta ton (51% dari total produksi) pada tahun 2004. 

Pada tahun 2004 konsumsi jagung sebagai pangan diperkirakan hanya sekitar 3,0 juta ton (42% dari total produksi). Indonesia selalu menjadi net importer jagung sejak 1992, kecuali pada saat krisis ekonomi 1997/98, Indonesia kembali menjadi net exporter karena merosotnya penggunaan jagung untuk pakan. Impor jagung Indonesia pada tahun 2006/07 mencapai 1,9 juta ton (Food Outlook 2007).

Dengan tingkat konsumsi daging yang masih rendah, peningkatan pendapatan dan urbanisasi akan mengubah pola konsumsi penduduk ke komoditas peternakan (ADB 2006). Peningkatan konsumsi produk peternakan akan memacu permintaan jagung untuk pakan ternak. Disamping itu, permintaan jagung untuk industri pangan olahan juga akan meningkat. Dengan perubahan ini maka jagung bukan lagi sebagai komoditas pangan pokok, tapi telah berubah menjadi bahan baku industri. Hal ini memerlukan penyesuaian dalam pengembangan jagung di masa depan.

Tingkat konsumsi daging di Indonesia pada tahun 2005 hanya 3,0 kg/kapita daging ayam ras, sedangkan di Malaysia telah mencapai 38,1 kg/kapita, dan Thailand 11,9 kg/kapita/tahun (FAS/ERS/USDA 2007).

Sebagai indikator daya beli, pengeluaran/kapita/bulan penduduk pada tahun 2005 berdasarkan harga konstan 1993 adalah 90,2 dolar AS di Indonesia, 154,5 dolar AS di Thailand, dan 382,9 dolar AS di Malaysia. Dengan meningkatnya pendapatan maka tingkat konsumsi daging dan produk hortikultura juga akan meningkat. Peningkatan konsumsi produk peternakan akan mencapai di atas 5% per tahun dan ini akan menyebabkan permintaan jagung untuk pakan akan meningkat di atas 4% per tahun.

Selama ini peningkatan produksi jagung hanya sekitar 3% per tahun. Oleh karena itu, impor jagung akan terus berlanjut, sebagaimana diperkirakan oleh FAO (2007) dan ERS/USDA (2007). Pendapatan nasional per kapita pada tahun 2006 adalah 1.420 dolar AS di Indonesia, 2.990 dolar AS di Thailand, dan 5.490 dolar AS di Malaysia. Paritas daya beli pendapatan nasional (PPP GNI) pada tahun 2006 adalah 3.950 dolar AS di Indonesia, 9.140 dolar AS di Thailand, dan 11.300 dolar AS di Malaysia (World Bank 2007). Tingkat pendapatan dan urbanisasi juga akan mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga. 

Dalam Tabel 6 disajikan perubahan pola konsumsi penduduk Indonesia selama dua dasawarsa yang lalu. Data ini konsisten dengan data yang disajikan dalam Gambar 9, di mana konsumsi beras sudah mulai menurun,


sedangkan konsumsi daging, telur, dan ikan meningkat. Pengeluaran penduduk Indonesia untuk beras dan serealia lainnya rata-rata 20% dari total pengeluaran. Angka yang sama juga dikeluarkan untuk daging, buahbuahan, dan sayuran, dibandingkan dengan tahun 1980, adalah 39% pengeluaran untuk pangan pokok beras dan sereal (World Bank 2007a).
Perubahan pola konsumsi produk peternakan yang cepat ini merupakan salah satu indikasi telah terjadinya revolusi di bidang peternakan (Delgado et al. 1999).

Data dalam Tabel 6 juga memperlihatkan total konsumsi jagung sebagai makanan pokok menurun dan konsumsi daging ayam meningkat dengan cepat. 
Untuk memproduksi 1 kg daging ayam diperlukan sekitar 3 kg jagung.
Angka ini menunjukan bahwa peningkatan konsumsi jagung dihela oleh meningkatnya konsumsi produk peternakan, sedangkan konsumsi jagung sebagai makanan pokok menurun.

Di samping ayam ras, komoditas peternakan yang juga memerlukan
pakan dengan bahan baku jagung adalah sapi perah. Pada tahun 2005 konsumsi susu bubuk mencapai 196.000 MT, sekitar 167.000 MT di antaranya diimpor. Konsumsi susu bubuk meningkat dengan laju 5% per tahun.
Keinginan untuk meningkatkan pangsa produksi susu dalam negeri juga akan mendorong permintaan jagung dalam negeri.
 
Faktor lainnya yang juga akan mempengaruhi pasar jagung internasional adalah peningkatan konsumsi etanol untuk bahan bakar kendaraan bermotor, meningkatnya harga minyak bumi dalam lima tahun terakhir. Di Amerika Serikat dan Brazil, jagung juga digunakan sebagai bahan baku etanol (ERS/USDA 2007).
 
Data pada Gambar 10 menunjukkan adanya peningkatan penggunaan jagung untuk industri etanol di Amerika Serikat. Hal ini akan mempengaruhi harga jagung di pasar dunia seperti terlihat pada Gambar 11. Tren harga jagung didasarkan atas perkiraan harga minyak bumi tidak lebih dari 85 dolar AS/barel pada tahun 2016. Apabila harga minyak bumi di atas 80 dolar AS/barel, maka harga jagung juga akan berubah. Harga minyak bumi pada Nopember 2007 sudah mencapai 96 dolar AS/barel. Peningkatan produksi etanol di Amerika Serikat di samping didorong oleh peningkatan harga minyak bumi, juga mendapatkan insentif dari pemerintah. Bantuan pemerintah Amerika Serikat untuk produksi etanol diperkirakan 0,38-0,49 dolar AS/barel setara minyak bumi. Peningkatan harga jagung di pasar dunia sebesar 23% pada tahun 2006 dan bahkan 60% pada tahun 2005 adalah akibat peningkatan penggunaan jagung untuk industri etanol (World Bank 2007c).                                                                                                                                               
 
Untuk memproduksi 100 liter etanol (bahan bakar kendaraan bermotor) diperlukan 240 kg jagung, setara dengan konsumsi pangan seorang penduduk/tahun. Dengan demikian kompetisi permintaan jagung untuk pangan dan bahan bakar akan makin meningkat. Di Amerika Serikat pada tahun 2006/07, sekitar 20% produksi jagung digunakan untuk etanol yang hanya mampu mensubstitusi 3% kebutuhan bahan bakar minyak di negara ini. Di Indonesia, penggunaan jagung untuk biofuel sebaiknya dihindari, dan diganti dengan komoditas lainnya seperti jarak pagar (World Bank 2007b). Hal yang sama juga terjadi pada minyak makan, akibat naiknya harga minyak kelapa sawit di pasar dunia karena sebagian digunakan untuk biodiesel di Eropa dan beberapa negara lainnya.

Penelitian menunjukan bahwa pengembangan areal kelapa sawit dengan mengkonversi hutan dan lahan rawa akan menghilangkan fungsi hutan sebagai pengendali emisi gas rumah kaca (GRK) untuk beberapa lama. 
Dengan demikian, perluasan perkebunan kelapa sawit untuk produksi biodiesel kurang tepat dan berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan (World Bank 2007a).

Sumber : 
Gambaran Umum Ekonomi Jagung Indonesia 

 Faisal Kasryno1, Effendi Pasandaran1, Suyamto2, dan Made O. Adnyana2
1Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor