Kamis, 18 Juli 2013

Harga Jagung Masih Akan tetap Tinggi Sampai Akhir Tahun 2013 ?

JAKARTA (18/07), Para peternak harus waspada. Pasalnya, harga jagung yang terus melambung membuat harga pakan ikut mendaki. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) mencatat: sepanjang enam bulan pertama tahun ini produsen pakan ternak sudah menaikkan harga dua kali.

Sudirman, Ketua Umum GPMT mengatakan, saat ini, harga pakan ternak untuk ayam broiler atau ayam potong di kisaran Rp 6.000 per kilogram (kg). Sedangkan untuk pakan ayam petelur atau layer di kisaran Rp 4.500 per kg. "Bila dijumlahkan, kenaikan harga pakan tersebut berada di kisaran Rp 200 per kg daripada harga sebelumnya," kata Sudirman.
Menurutnya, harga pakan akan terus naik sampai akhir tahun lantaran harga jagung lokal juga terus terkerek naik. Bahkan, pada saat panen raya pun, harga jagung lokal masih akan melejit.

Tahun lalu, harga jagung saat panen raya pada Februari sampai April dipatok sebesar Rp 2.600 sampai Rp 2.700 per kg. Namun, saat panen raya tahun ini, harga jagung mencapai Rp 3.200 per kg. Bahkan saat ini, harga jagung mencapai Rp 3.600 per kg.

"Tren harga pakan ternak terus naik, tetapi kita tidak berani memperkirakan besarannya," ujar Sudirman.
Sekedar catatan, jagung merupakan bahan baku utama dalam pakan ternak. Komposisinya dari total bahan baku pakan mencapai 50%-55%. Walhasil, kenaikan harga jagung mempengaruhi harga pakan secara keseluruhan.

Penyebab kenaikan harga jagung, kata Sudirman adalah terbatasnya pasokan. Sementara permintaannya tinggi. Berdasarkan perhitungan GPMT, tahun ini produksi pakan ternak akan meningkat 10% dibanding tahun lalu yang volumen mencapai 13,8 juta ton. Dengan demikian, produksi pakan ternak tahun ini sebesar 15,18 juta ton atau sekitar 82% dari kapasitas pabrik pakan yang mencapai sekitar 18,5 juta ton.
Sudirman meminta pemerintah untuk memberikan perhatian pada ketersediaan bahan baku pakan ternak tahun ini. Kebutuhan jagung saat ini mencapai 7 juta ton. Ia memperkirakan kebutuhan jagung ini akan naik seiring dengan meningkatkan permintaan pakan.

Menurut Desianto Budi Utomo, Sekjen GMPT kenaikan harga bersumber dari distribusi. Kondisi infrastruktur yang tidak mendukung mengakibatkan tidak semua produksi lokal diserap pabrik pakan. "Makanya harga juga tinggi," katanya.

Terus ekspansi
Walau mengalami tren kenaikan harga bahan baku seperti jagung, namun hal tersebut tidak menyurutkan perusahaan produsen pakan untuk melakukan ekspansi usaha.
PT Malindo Feedmill Tbk contohnya. Perusahaan ini kini tengah menyelesaikan pembangunan dua pabrik pakan ternak, yaitu di Makassar (Sulawesi Selatan) dan di Semarang (Jawa Tengah).
Rudy Hartanto, Corporate Secretary Malindo Feedmill mengatakan, proses pembangunan pabrik pakan ternak tersebut setidaknya memakan waktu hingga satu tahun. "Investasi yang dibutuhkan untuk membangun dua pabrik pakan ternak tersebut lebih dari Rp 250 miliar," kata Rudy.

Saat ini kapasitas terpasang pabrik pakan yang dimiliki Malindo Feedmill mencapai 900.000 ton. Dengan tambahan dua pabrik tersebut, diharapkan kapasitas produksi pakan PT Malindo akan bertambah sebesar 50% dari yang sekarang.
Meski tidak merinci, Rudy bilang produksi pakan ternak Malindo Feedmill saat ini telah mencapai lebih dari 50% dari kapasitas terpasang. Dalam perhitungan bisnis pabrik pakan ternak harus segera melakukan ekspansi ketika utilitas pabriknya telah mencapai 60%-70%.