Sabtu, 06 Juli 2013

Cara Pengeringan Jagung Di Tingkat Petani

Cara pengeringan jagung yang umum dilakukan petani adalah dengan bantuan sinar matahari atau penjemuran langsung di lapang (in-field sun
drying).
Cara ini dapat dibedakan menjadi:
(a) penjemuran bersama-sama antara tongkol yang masih menyatu dengan batang tanaman;
(b) penjemuran tongkol yang sudah dipetik dari batang atau sudah dipisahkan antara biji dengan janggelnya (jagung pipil).

Pengeringan langsung di lapang dengan membiarkan tongkol tetap pada tanaman selama 7-14 hari. Cara ini sudah dilakukan oleh banyak petani yang menanam jagung hibrida (tinggi tongkol dari permukaan tanah
seragam), khususnya pertanaman musim kemarau.
Pengeringan dengan cara ini dapat menurunkan kadar air biji sampai 18%.
Pengeringan langsung di lapang dengan menjemur bahan (tongkol beserta biji atau biji pipilan) dipermukaan tanah atau lantai jemur juga telah dilakukan oleh banyak petani jagung.

Prinsip pengeringan dengan cara penjemuran adalah memanfaatkan perpindahan suhu panas sinar matahari ke sekeliling bahan yang dikeringkan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penjemuran tongkol atau biji jagung secara langsung di lapang adalah adanya sifat higroskopis bahan, sehingga selama proses pengeringan berlangsung terjadi kenaikan kadar air biji. Kenaikan kadar air biji akan terjadi apabila tekanan uap air jenuh di sekeliling bahan meningkat, karena adanya tekanan osmotik dari jaringan pipa kapiler tanah di bawah tempat penjemuran, atau suhu di lingkungan penjemuran turun pada malam hari.

Cara penjemuran jagung yang umum dilakukan petani adalah:
(a) dikeringkan langsung bersama tongkol setelah panen;
(b) dikeringkan setelah dirontok atau dipisahkan dari janggel;
(c) tongkol dikupas dan dikeringkan terlebih dahulu selama dua hari untuk mencapai kadar air <20%, dirontok, kemudian dikeringkan lagi; 
(d) penundaan pengeringan dan jagung langsung dikarungkan, disimpan 1-2 hari, dipipil dan dijual;
(e) tanpa dikeringkan
(Dharmaputra et al. 1996, Prastowo et al. 1998).

Pengeringan Jagung Untuk Menurunkan Infeksi Cendawan/ Jamur

Pengeringan adalah upaya untuk menurunkan kadar air biji jagung agar
aman disimpan.
Kadar air biji yang aman untuk disimpan berkisar antara 12-14%.
 
Pada saat jagung dikeringkan terjadi proses penguapan air pada biji karena adanya panas dari media pengering, sehingga uap air akan lepas dari permukaan biji jagung ke ruangan di sekeliling tempat pengering (Brooker et al. 1974).

Pengeringan diperlukan sebelum pemipilan untuk menghindari terjadinya biji pecah. Untuk itu, kadar air biji harus diturunkan menjadi < 20%.
Pengeringan dimaksudkan untuk mencapai kadar air biji 12-14% agar tahan disimpan lama, tidak mudah terserang hama dan terkontaminasi cendawan yang menghasilkan mikotoksin, mempertahankan volume dan bobot bahan sehingga memudahkan penyimpanan (Handerson and Perry 1982).

Pengeringan untuk Menurunkan Infeksi Cendawan

Penundaan panen jagung selama tujuh hari setelah masak fisiologis dengan cara memangkas batang 10 cm di atas tongkol dapat membantu proses penurunan kadar air biji dan menekan tingkat penularan cendawan .

Apabila pengeringan jagung menggunakan alat pengering, tingkat infeksi cendawan hanya berkisar antara 9-10%. Oleh sebab itu, pengeringan harus dilakukan secepatnya setelah panen jika cuaca mendukung. Namun bila kondisi cuaca kurang mendukung dan petani tidak mempunyai fasilitas pengeringan maka mutu produk akan rendah.

Beberapa cara pengeringan jagung, laju pengeringan, dan tingkat infeksi cendawan. 

Proses pengeringan*)  Laju Pengeringan dan Tingkat infeksi cendawan (%) **)

Tanaman jagung dijemur selama 7 hari setelah masak fisiologis di lapang/ ladang : Laju pengeringan sebesar 0,80% per hari. Tingkat infeksi cendawan 18%.

Tongkol jagung dipanen dan dikeringkan dengan sinar matahari : Laju pengeringan sebesar 0,75% per jam , Tingkat infeksi cendawan 15%.

Tongkol jagung dipanen dan dikeringkan dengan sinar matahari : Laju pengeringan sebesar 0,94% per jam

Panen tongkol jagung, kupas kelobot, dan jemur tongkol jagung : Laju pengeringan sebesar 0,50% per jam Tingkat infeksi cendawan 10%.

Panen tongkol jagung, kupas kelobot, tongkol jagung dipipil, dan jagung pipil dikeringkan dengan mesin pengering : Laju pengeringan sebesar 2,07% per jam , Tingkat infeksi cendawan 9%.
 
Panen tongkol jagung, kupas kelobot, tongkol jagung dikeringkan dengan mesin pengering : Laju pengeringan sebesar 0,70% per jam, Tingkat infeksi cendawan 10%.

*) Pengeringan dilakukan sampai kadar air biji 15-17%.

**) Jagung pipilan setelah dikeringkan dan diangin-anginkan dimasukkan ke dalam kantung plastik dan disimpan pada suhu ruang 25ÂșC selama 120 hari.

Waktu Pemanenan Sangat Menentukan Mutu Jagung

Penanganan panen yang tepat sangat berpengaruh pada jagung hasil pasca panen.
Waktu pemanenan sangat menentukan mutu biji jagung. 
 
Pemanenan yang terlalu awal menyebabkan banyaknya butir muda sehingga kualitas dan daya simpan biji rendah. Sebaliknya, pemanenan yang terlambat menyebabkan penurunan kualitas dan peningkatan kehilangan hasil akibat cuaca yang tidak menguntungkan atau serangan hama dan penyakit di lapang.

Jagung yang siap dipanen biasanya ditandai dengan daun dan batang tanaman mulai mengering dan berwarna kecoklatan. Selain itu, juga dapat diketahui dari adanya lapisan hitam pada pangkal biji jagung (black layer).
Apabila pada pangkal biji sudah ditumbuhi lebih dari 50% lapisan hitam, maka tanaman sudah masak fisiologis. Petani di sejumlah daerah memanen jagung setelah umur panen tercapai (daun dan batang jagung telah berwarna coklat).

Pemanenan jagung bergantung pada lokasi, jenis lahan, dan ketersediaan teknologi.
Panen tongkol umum dilakukan petani pada lahan tadah hujan atau lahan kering.
Perbedaannya, pada lahan kering, petani langsung memanen jagung bersama tongkolnya dengan kelobot relatif basah karena dipanen pada musim hujan. Kadar air biji pada kondisi tersebut berkisar antara 30-35% dan adakalanya mencapai 40%.
Pemanenan tongkol pada lahan sawah tadah hujan, kadar air biji sudah agak rendah, yaitu 25-30%.

Tongkol kemudian diangkut ke tempat pengumpulan untuk dianginanginkan beberapa saat, lalu dikupas, dan dikeringkan. Batang tanaman ditebang untuk dijadikan pakan atau tetap dibiarkan di lapang.
Cara panen tongkol di lapang dilakukan oleh umumnya petani jagung di Sulawesi Selatan, baik pada lahan kering, lahan sawah tadah hujan maupun lahan sawah irigasi.

Penebangan batang pada saat panen dilakukan dengan parang dan memerlukan waktu 155,5 jam/orang/ha atau 19,4 HOK dengan masa panen delapan jam/hari.
Pengupasan kelobot dilakukan oleh tenaga wanita dengan waktu kerja 131,2 jam/orang/ha atau 16,4 HOK/ha.

Pentingnya Proses Pasca Panen Untuk Komoditi Jagung


Penanganan pascapanen merupakan salah satu mata rantai penting dalam usahatani jagung. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa petani umumnya memanen jagung pada musim hujan dengan kondisi lingkungan yang lembab dan curah hujan yang masih tinggi. 
Hasil survei menunjukkan bahwa kadar air jagung yang dipanen pada musim hujan masih tinggi, berkisar antara 25-35%. Apabila tidak ditangani dengan baik, jagung berpeluang terinfeksi cendawan yang menghasilkan mikotoksin jenis aflatoksin
(Firmansyah et al. 2006).

Adanya nilai tambah dari produk olahan jagung seperti minyak jagung dan produk olahan lainnya yang dilaporkan berdampak positif bagi kesehatan manusia menyebabkan bergesernya penggunaan biji jagung dari pemenuhan konsumsi ternak menjadi konsumsi manusia dan ternak.
Perubahan pola konsumsi tersebut menuntut adanya perbaikan proses pascapanen jagung untuk menghasilkan biji yang aman dikonsumsi, baik oleh manusia maupun ternak. 
Hal ini mendasari dikeluarkannya Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang keamanan pangan. Beberapa negara seperti Cina, Malaysia, dan Singapura telah memberlakukan standar mutu yang sangat ketat untuk produk jagung (Warintek 2007). Untuk itu diperlukan teknologi penanganan pascapanen jagung, terutama di tingkat petani, untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif dan mampu bersaing di pasar bebas.

Proses pascapanen jagung terdiri atas serangkaian kegiatan yang dimulai dari pemetikan dan pengeringan tongkol, pemipilan tongkol, pengemasan biji, dan penyimpanan sebelum dijual ke pedagang pengumpul. Ke semua proses tersebut apabila tidak tertangani dengan baik akan menurunkan kualitas produk karena berubahnya warna biji akibat terinfeksi cendawan, jagung mengalami pembusukan, tercampur benda asing yang membahayakan kesehatan. 

Jagung mempunyai banyak permasalahan pascapanen yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan kerusakan dan kehilangan.
Permasalahan antara lain adalah:

Susut Kuantitas dan Mutu
Kehilangan hasil jagung pada pascapanen dapat berupa kehilangan kuantitatif dan kualitatif. 
Kehilangan kuantitatif merupakan susut hasil akibat tertinggal di lapang waktu panen, tercecer saat pengangkutan, atau tidak terpipil. 
Kehilangan kualitatif merupakan penurunan mutu hasil akibat butir rusak, butir berkecambah, atau biji keriput selama proses pengeringan, pemipilan, pengangkutan atau penyimpanan.

Keamanan Pangan
Penundaan penanganan pascapanen jagung berpeluang meningkatkan infeksi cendawan. 
Penundaan pengeringan paling besar kontribusinya dalam meningkatkan infeksi cendawan Aspergillus flavus yang bisa mencapai di atas 50%. Cendawan tersebut menghasilkan mikotoksin jenis aflatoksin yang bersifat mutagen dan diduga dapat menyebabkan kanker esofagus pada manusia (Weibe and Bjeldanes 1981). Toksin yang dikeluarkan oleh cendawan tersebut juga berbahaya bagi kesehatan ternak.
Salah satu cara pencegahannya adalah mengetahui secara dini kandungan mikotoksin pada biji jagung.

Ketersediaan Sarana Prosesing
Permasalahan lain dalam penanganan pascapanen jagung di tingkat petani adalah tidak tersedianya sarana prosesing yang memadai, padahal petani umumnya memanen jagung pada musim hujan dengan kadar air biji di atas 35%. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi prosesing yang tepat, baik dari segi peralatan maupun sosial dan ekonomi.

Harga Jagung Pembelian BNS Naik Menjadi Rp. 3.200,- per Kg | Update Harga BNS per 6 Juli 2013

Mengikuti fluktuasi harga jagung di tingkat nasional, hari ini Sabtu 6 Juli 2012 , BNS akan membeli jagung pada rate harga Rp. 3.200,- per Kg untuk jagung pipil kering dengan standar kadar air maksimal 17%.

BNS juga menerima jagung pipil basah dengan kadar air 28% - 30%. BNS mematok pembembelian jagung pipil basah dengan harga Rp. 2.250,- per Kg.

HARGA PEMBELIAN BNS 
UNTUK KOMIDITI JAGUNG PIPILAN
BERDASARKAN STANDAR KADAR AIR



%  KADAR AIR POTONGAN % HARGA FINAL
HARGA PEMBELIAN SESUAI KADAR AIR



17.00 % 0% 3.200
17.01 - 17.50 0,60% 3.181
17.51 - 18.00 1,20% 3.162
18.01 - 18.50 1,80% 3.142
18.51 - 19.00 2,40% 3.123
19.01 - 19.50 3% 3.104
19.51 - 20.00 4,00% 3.072
20.01 - 20.50 5,00% 3.040
20.51 - 21.00 6,00% 3.008
21.01 - 22.00 8,50% 2.928
22.01 - 23.00 11,00% 2.848
23.01 - 24.00 13,50% 2.768
24,01 - 25,00 16,00% 2.688
25,1 - 26,00 19,00% 2.592
26,01 - 27,00 22,00% 2.496
27,01 - 28,00 25,00% 2.400
LEBIH dari 28,01% 30% 2.240

Harga Jagung Akan Bertahan Tinggi Sampai Akhir Tahun 2013

JAKARTA. Harga jagung terus menjulang. Pasokan produsen dunia seperti Brasil dan Argentina menipis, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dampaknya, tak cuma naik di pasar internasional, harga jagung dalam negeri juga ikut terkerek. Kondisi ini terjadi sejak awal tahun hingga saat ini.
Desianto Budi Utomo, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GMPT) menuturkan, kenaikan harga karena suplai jagung berkurang, sedang permintaan cukup besar.
Di tingkat lokal, harga jagung di wilayah DKI Jakarta tembus Rp 3.500 sampai Rp 3.600 per kilogram (kg). Padahal, periode sama tahun lalu, harga jagung di Rp 3.200 hingga Rp 3.300 per kg. "Sampai akhir tahun, harga jagung bisa naik sampai Rp 3.800 per kg," kata Desianto kepada KONTAN, Senin (2/7).
Ada beberapa faktor penyebab kenaikan harga jagung. Pertama adalah produksi jagung berkurang di beberapa wilayah di Indonesia seperti Lampung, Medan, Sumatera Utara, Makasar dan Jawa Timur. Kedua permintaan tinggi, terutama untuk industri pakan ternak. Ketiga adalah persoalan infrastruktur.
Berharap jagung impor sulit lantaran pasokan jagung dari beberapa wilayah di dunia juga berkurang. "Di Argentina dan Brasil, panennya hanya cukup untuk mencukupi diri sendiri," kata Desianto.
Pada Selasa (2/7), harga jagung berjangka sekitar US$ 5,04 per bushel di Chicago Board of Trade. Berbeda dengan harga jagung lokal, kenaikan harga jagung internasional tidak terlalu tinggi. "Semester pertama naiknya sekitar 5%," kata Desianto.
Namun, berdasarkan laporan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat, panenan jagung akan mengalami kenaikan hingga mencapai 966,95 juta ton atau lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya mencapai 966,52 juta metrik ton.
Meski produksi jagung di negara Paman Sam tersebut surplus, Desianto memprediksi harga jagung di tingkat internasional masih akan naik. Penyebabnya, permintaan dunia terhadap jagung cukup tinggi. Jagung tidak hanya untuk bahan makanan tetapi juga bahan baku energi untuk pembuatan bioethanol.
"Pemerintah AS sedang menggenjot untuk bioethanol," kata Desianto. Ditambah lagi, di India panen jagung lebih cepat. Sehingga tidak ada lagi panen.
 

Rabu, 03 Juli 2013

Harga Jagung Hari ini Rabu 3 Juli 2013 - Tabel Harga Pembelian BNS Untuk jagung Pipil Kering

Biji Jagung Berjamur pasti ditolak oleh pembeli
Sejak tanggal 1 Juli 2013 BNS melakukan pembelian jagung pipil basah dan jagung pipil kering dengan standar harga sbb :
a. Jagung Pipil Basah KA 28% -   30%     = Rp. 2.200,- per Kg

b. Jagung Pipil Kering KA 17%     
     = Rp. 3.150,- per Kg

Harga Jagung pipil kering untuk standar KA 17% dipatok pada harga Rp. 3,150,- per kg. 
Berapa harga jagung yang berkadar air lebih tinggi dari 17% ? Harga jagung dengan KA 18%, 19% dan seterusnya dapat dilihat pada tabel harga berikut ini :





HARGA PEMBELIAN BNS
UNTUK KOMIDITI JAGUNG PIPILAN
BERDASARKAN STANDAR KADAR AIR



%  KADAR AIR
POTONGAN %
HARGA FINAL
HARGA PEMBELIAN
SESUAI KADAR AIR



17.00 %
0%
3.150
17.01 - 17.50
0,60%
3.131
17.51 - 18.00
1,20%
3.112
18.01 - 18.50
1,80%
3.093
18.51 - 19.00
2,40%
3.074
19.01 - 19.50
3%
3.056
19.51 - 20.00
4,00%
3.024
20.01 - 20.50
5,00%
2.993
20.51 - 21.00
6,00%
2.961
21.01 - 22.00
8,50%
2.882
22.01 - 23.00
11,00%
2.804
23.01 - 24.00
13,50%
2.725
24,01 - 25,00
16,00%
2.646
25,1 - 26,00
19,00%
2.552
26,01 - 27,00
22,00%
2.457
27,01 - 28,00
25,00%
2.363
LEBIH dari 28,01%
30%
2.205



KETERANGAN :


1. Harga ditetapkan sesuai tabel setelah dilakukan pengecekan
kadar air dengan tester alat pengukur kadar air.




2. Harga tersebut adalah harga pembelian loco gudang BNS Kudus
Lokasi Gudang : Ds. Megawon Kec. Jati Kab, Kudus Jawa Tengah.



3. Pembayaran Tunai setelah bongkar muatan dan timbang.



4. Penjual menanggung ongkos bongkar muatan sebesar Rp.10,-/Kg.



5. Standar Jagung pipil sesuai ketentuan SNI Jagung, yaitu :
a. Kadar Air maksimal 17%.


Kadar air lebih dari 17% dikenakan potongan harga sesuai tabel.
b. Kadar Jamur maksimal 1%


c. Kadar Biji Mati maksimal 1%

d. Kadar Kotoran/ benda asing maksimal 2%




6. BNS juga bisa melakukan pembelian dengan cara mengambil
barang ke lokasi penjual, dengan ketentuan :

6.1. Harga beli dikurangi biaya transportasi sesuai jauh dekatnya
lokasi penjual dengan lokasi gudang BNS di Kudus.

6.2. Biaya tenaga muat barang keatas truk ditanggung penjual.
6.3. Bila harus "melangsir" dalam pengambilan barang dikarenakan
lokasi penjual tidak dapat dijangkau oleh kendaraan truk, maka biaya
"melangsir" tersebut menjadi tanggungan penjual.

6.4. Pembayaran tunai di lokasi penjual dilakukan setelah timbang dan
muat barang keatas truk.





INFO DAN KETERANGAN, bisa SMS ke :
1. ARIS MUSTAKIM
SUDAH TIDAK BEKERJA PADA BNS

2. ibarsantoso
0811277869