Senin, 03 Juni 2013

Harga Jagung Akan Cenderung Naik Sampai Bulan Juli 2013 ... ? | Analisa Perkembangan Harga Jagung

Setelah mengalami penurunan harga yang cukup dalam di bulan Maret 2013, harga jagung mengalami naik-turun yang disebabkan oleh banyak hal dalam perdagangan international dan nasional Indonesia.
Sejak awal bulan April 2013 harga jagung termasuk cukup stabil. Harga jagung mulai merambat naik di akhir bulan Mei 2013.

Apakah harga jagung akan stabil di bulan Juni 2013 ini ?
Berdasarkan history harga jagung dari tahun ke tahun di pasar berjangka CBOT, menurut pendapat BNS harga jagung akan cenderung stabill pada harga 6.624 dollar US selama minggu pertama bulan Juni 2013.
Tingginya harga jagung international tertolong oleh adanya panen di sebagian sentra jagung Indonesia.
Cuaca yang ternyata masih sering hujan akan menyebabkan harga jagung di tingkat petani masih sedikit tertekan.

Data Perkembangan Harga Jagung di pasar perdagangan berjangka CBOT 
dalam 3 bulan ( Maret - Juni 2013 ) :


 Penurunan harga jagung terdalam terjadi pada awal bulan April 2013. Harga jagung kembali bergerak naik di akhir bulan Mei 2013.

Pada 31 Mei 2013, harga perdagangan jagung berjangka ditutup pada level  6.62 dollar US per bushel.
Data Perkembangan Harga Jagung di pasar perdagangan berjangka CBOT 
dalam 6 bulan ( Desember 2012 - Juni 2013 ) :


 Walaupun dibilang "mengalami kenaikan harga", sebenarnya harga jagung saat ini masih lebih murah bila dibandingkan harga jagung pada bulan Januari - April 2013.

Harga saat ini hanya 6.62 dollar US, sedangkan harga terendah di bulan Januari - Maret 2013 masih diatas 6.80 dollar US per bushel.




 
Data Perkembangan Harga Jagung di pasar perdagangan berjangka CBOT 
dalam 12 bulan terakhir ( Juni 2012 - Juni 2013 ) :


Setelah mengalami kenaikan harga tertinggi pada bulan Juli 2012, harga jagung cenderung turun dan belum bisa mendapatkan harga setara seperti di bulan juli 2012 tersebut. 
Harga Jagung pada bulan juli 2012 mencapai lebih dari 8 dollar US per bushel, sedangkan harga tertinggi di tahun 2013 masih dibawah 7.50 dollar US per bushel.





Data Perkembangan Harga Jagung di pasar perdagangan berjangka CBOT 
dalam 24 bulan :



 Seperti yang terjadi dalam bulan April - Juni 2013, harga jagung pada bulan yang sama di tahun 2012 juga mengalami penurunan dan kenaikan di bulan Juni sampai Juli.

Apakah harga jagung akan mengalami kenaikan sampai bulan Juli 2013 ?
Silahkan Anda menganalisa dan memadukan semua faktor yang mempengaruhi harga jagung.
BNS berpendapat, bahwa harga jagung akan cenderung naik sampai puncaknya di bulan Juli 2013. Harga akan kembali turun menjelang akhir bulan Juli 2013 sampai awal bulan September 2013. 
  

Data Perkembangan Harga Jagung di pasar perdagangan berjangka CBOT 
dalam 36 bulan terakhir ( 2011 - 2013 ):



 Histori harga jagung dari tahun ke tahun dapat digunakan untuk melakukan prediksi trend perkembangan harga dimasa sekarang.

Salah satu penentu harga adalah adanya keseimbangan antara permintaan dan persediaan.

Permintaan jagung selalu naik dari tahun ke tahun. Sedangkan persediaan jagung dapat diprediksi dari histori masa panen dari bulan ke bulan setiap tahunnya secara nasional di kawasan Indonesia dan di kawasan negara negara penghasil jagung di luar Indonesia. 
Kondisi politik nasional dan internasional, kondisi perdagangan minyak dan hasil peternakan, kondisi cuaca dan bencana alam juga mempengaruhi harga jagung, tapi sifatnya hanya sesaat. Faktor terkuat dalam terjadinya harga tetap pada perbedaan antara permintaan dan persediaan.

REFERENSI :

Corn futures for December delivery added 2.7 percent to $5.6575 a bushel in Chicago

Wheat Rises on Dryness in Southern U.S., Rain in North

Wheat rose for the first time in three sessions as hot, dry weather in the southern U.S. Great Plains threatens the winter crop and rain in northern states delays planting of spring varieties. Corn jumped. Soy fell.

Parts of Kansas, Colorado and Texas that are already dry will get little rain this week, DTN in Omaha, Nebraska, said in a report. Spring wheat was 79 percent planted as of May 26, below the five-year average of 86 percent, government data show. Four inches (10 centimeters) of rain are expected in areas of Minnesota and North Dakota in the next five days, Commodity Weather Group LLC in Bethesda, Maryland, said.

“It’s not surprising to see wheat rally” because of the weather, Jason Britt, the president of Central States Commodities Inc., a brokerage in Kansas City, Missouri, said in a telephone interview.

Wheat futures for July delivery rose 1.3 percent to settle at $7.0275 a bushel at 1:15 p.m. on the Chicago Board of Trade. The price dropped 1.4 percent in the previous two sessions. The grain has declined 9.7 percent this year as the U.S. Department of Agriculture forecast that world production will rise to a record in the 12 months that start June 1.

Corn futures for December delivery added 2.7 percent to $5.6575 a bushel in Chicago on speculation that delayed planting will curb U.S. production that’s expected to surge to a record in the year that starts on Sept. 1. The price has plunged 19 percent in 2013.

“The planting delays are real and have to be watched,” Britt said. “There’s some flooding and the crops don’t look so good.”

Soybean futures for July delivery fell 0.5 percent to $15.0175 a bushel on the CBOT. The oilseed has gained 6.5 percent this year. Today, the USDA reported the cancellation of 147,000 metric tons of export sales to China.

In the U.S., corn is the biggest crop, followed by soybeans, hay and wheat, USDA data show.
To contact the reporter on this story: Tony C. Dreibus in Chicago at tdreibus@bloomberg.net
To contact the editor responsible for this story: Steve Stroth at sstroth@bloomberg.net

source: www.bloomberg.com/news 
 

Harga Jagung International Minggu Lalu Mendekati Harga Tertinggi

JAGUNG Dekati Harga Tertinggi 3 Bulan Terakhir

CHICAGO - Jagung diperdagangkan mendekati harga tertinggi dalam 3 pekan terakhir, seiring dengan hambatan penanaman di sebagian daerah Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil komoditas ini akibat hujan lebat.

Jagung berjangka untuk pengiriman Desember, setelah panen, naik sekitar 0,5% menjadi US$5,54 per bushel di Chicago Board of Trade dan diperdagangkan pada harga US$5,535 pada 10.48 pagi di Singapura. Kemarin, harga kontrak mencapai US$5,5425, atau termahal sejak 3 Mei 2013. 

U.S. Department of Agriculture melaporkan sekitar 86% dari tanaman jagung telah disemai pada 26 Mei. Angka tersebut naik dari angka pekan sebelumnya, yakni 71%. Dalam 5 tahun terakhir angka persebaran tanaman jagung mencapai 90%, dan tahun lalu 99%.

Commodity Weather Group LLC menyatakan kawasan Iowa, Illinois, Missouri, dan South Dakota mengalami hujan selama 3 hari dengan intensitas 6 inches (15 centimeters)  yang menyebabkan banjir dan menghambat penanaman.
Luke Mathews, ahli strategi komoditas pada Commonwealth Bank of Australia (CBA), melaporkan perkembangan pertanian jagung pada pekan lalu membaik.

Harga meningkat setelah hujan lebat dalam beberapa hari lalu di Midwest dan mendorong perhatian terhadap masa penanaman jagung, ungkapkapnya seperti dikutip Bloomberg, Rabu (29/5/2013).
Peneliti Instituto Mato-Grossense de Economia Agropecuaria memperkirakan penen jagung hasil penanaman kedua 2012-2013 di Brasil mencapai 17,37 juta ton, lebih banyak dari musim sebelumnya 15,59 juta ton.
Di Mato Grosso jagung merupakan tanaman kedua setelah kedele.

Kedele berjangka untuk pengiriman Juli naik 0,6% menjadi US$15,1825 per bushel setelah turun 0,4%. Harga naik 8,5% pada bulan ini, sekaligus merupakan kenaikan pertama sejak Januari.

Adapun gandum untuk pengiriman Juli sedikit berubah pada level US$6,94 per bushel, atau turun 5,1% pada bulan ini.

Editor : Fatkhul Maskur/ bisnis.com

Link referensi :



Selasa, 28 Mei 2013

Harga Jagung Dipengaruhi Oleh Perubahan Struktur Permintaan Jagung

Semakin sedikit orang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok
Sebelum tahun 1980an jagung dikenal sebagai komoditas pangan utama
setelah beras, karena merupakan makanan pokok sebagian penduduk
Indonesia seperti di Madura, beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur,
Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan beberapa kabupaten di
Sulawesi. Dengan berkembangnya industri peternakan maka terjadi
perubahan pola komsumsi jagung di Indonesia.

Berdasarkan perkiraan USDA (PSD 2006), konsumsi jagung untuk pakan pada tahun 1982 baru mencapai 867.000 ton (19% dari total produksi jagung dalam negeri). Angka ini meningkat menjadi 3,27 juta ton pada tahun 1998 (42,1% dari total produksi) dan 3,75 juta ton (51% dari total produksi) pada tahun 2004. 

Pada tahun 2004 konsumsi jagung sebagai pangan diperkirakan hanya sekitar 3,0 juta ton (42% dari total produksi). Indonesia selalu menjadi net importer jagung sejak 1992, kecuali pada saat krisis ekonomi 1997/98, Indonesia kembali menjadi net exporter karena merosotnya penggunaan jagung untuk pakan. Impor jagung Indonesia pada tahun 2006/07 mencapai 1,9 juta ton (Food Outlook 2007).

Dengan tingkat konsumsi daging yang masih rendah, peningkatan pendapatan dan urbanisasi akan mengubah pola konsumsi penduduk ke komoditas peternakan (ADB 2006). Peningkatan konsumsi produk peternakan akan memacu permintaan jagung untuk pakan ternak. Disamping itu, permintaan jagung untuk industri pangan olahan juga akan meningkat. Dengan perubahan ini maka jagung bukan lagi sebagai komoditas pangan pokok, tapi telah berubah menjadi bahan baku industri. Hal ini memerlukan penyesuaian dalam pengembangan jagung di masa depan.

Tingkat konsumsi daging di Indonesia pada tahun 2005 hanya 3,0 kg/kapita daging ayam ras, sedangkan di Malaysia telah mencapai 38,1 kg/kapita, dan Thailand 11,9 kg/kapita/tahun (FAS/ERS/USDA 2007).

Sebagai indikator daya beli, pengeluaran/kapita/bulan penduduk pada tahun 2005 berdasarkan harga konstan 1993 adalah 90,2 dolar AS di Indonesia, 154,5 dolar AS di Thailand, dan 382,9 dolar AS di Malaysia. Dengan meningkatnya pendapatan maka tingkat konsumsi daging dan produk hortikultura juga akan meningkat. Peningkatan konsumsi produk peternakan akan mencapai di atas 5% per tahun dan ini akan menyebabkan permintaan jagung untuk pakan akan meningkat di atas 4% per tahun.

Selama ini peningkatan produksi jagung hanya sekitar 3% per tahun. Oleh karena itu, impor jagung akan terus berlanjut, sebagaimana diperkirakan oleh FAO (2007) dan ERS/USDA (2007). Pendapatan nasional per kapita pada tahun 2006 adalah 1.420 dolar AS di Indonesia, 2.990 dolar AS di Thailand, dan 5.490 dolar AS di Malaysia. Paritas daya beli pendapatan nasional (PPP GNI) pada tahun 2006 adalah 3.950 dolar AS di Indonesia, 9.140 dolar AS di Thailand, dan 11.300 dolar AS di Malaysia (World Bank 2007). Tingkat pendapatan dan urbanisasi juga akan mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga. 

Dalam Tabel 6 disajikan perubahan pola konsumsi penduduk Indonesia selama dua dasawarsa yang lalu. Data ini konsisten dengan data yang disajikan dalam Gambar 9, di mana konsumsi beras sudah mulai menurun,


sedangkan konsumsi daging, telur, dan ikan meningkat. Pengeluaran penduduk Indonesia untuk beras dan serealia lainnya rata-rata 20% dari total pengeluaran. Angka yang sama juga dikeluarkan untuk daging, buahbuahan, dan sayuran, dibandingkan dengan tahun 1980, adalah 39% pengeluaran untuk pangan pokok beras dan sereal (World Bank 2007a).
Perubahan pola konsumsi produk peternakan yang cepat ini merupakan salah satu indikasi telah terjadinya revolusi di bidang peternakan (Delgado et al. 1999).

Data dalam Tabel 6 juga memperlihatkan total konsumsi jagung sebagai makanan pokok menurun dan konsumsi daging ayam meningkat dengan cepat. 
Untuk memproduksi 1 kg daging ayam diperlukan sekitar 3 kg jagung.
Angka ini menunjukan bahwa peningkatan konsumsi jagung dihela oleh meningkatnya konsumsi produk peternakan, sedangkan konsumsi jagung sebagai makanan pokok menurun.

Di samping ayam ras, komoditas peternakan yang juga memerlukan
pakan dengan bahan baku jagung adalah sapi perah. Pada tahun 2005 konsumsi susu bubuk mencapai 196.000 MT, sekitar 167.000 MT di antaranya diimpor. Konsumsi susu bubuk meningkat dengan laju 5% per tahun.
Keinginan untuk meningkatkan pangsa produksi susu dalam negeri juga akan mendorong permintaan jagung dalam negeri.
 
Faktor lainnya yang juga akan mempengaruhi pasar jagung internasional adalah peningkatan konsumsi etanol untuk bahan bakar kendaraan bermotor, meningkatnya harga minyak bumi dalam lima tahun terakhir. Di Amerika Serikat dan Brazil, jagung juga digunakan sebagai bahan baku etanol (ERS/USDA 2007).
 
Data pada Gambar 10 menunjukkan adanya peningkatan penggunaan jagung untuk industri etanol di Amerika Serikat. Hal ini akan mempengaruhi harga jagung di pasar dunia seperti terlihat pada Gambar 11. Tren harga jagung didasarkan atas perkiraan harga minyak bumi tidak lebih dari 85 dolar AS/barel pada tahun 2016. Apabila harga minyak bumi di atas 80 dolar AS/barel, maka harga jagung juga akan berubah. Harga minyak bumi pada Nopember 2007 sudah mencapai 96 dolar AS/barel. Peningkatan produksi etanol di Amerika Serikat di samping didorong oleh peningkatan harga minyak bumi, juga mendapatkan insentif dari pemerintah. Bantuan pemerintah Amerika Serikat untuk produksi etanol diperkirakan 0,38-0,49 dolar AS/barel setara minyak bumi. Peningkatan harga jagung di pasar dunia sebesar 23% pada tahun 2006 dan bahkan 60% pada tahun 2005 adalah akibat peningkatan penggunaan jagung untuk industri etanol (World Bank 2007c).                                                                                                                                               
 
Untuk memproduksi 100 liter etanol (bahan bakar kendaraan bermotor) diperlukan 240 kg jagung, setara dengan konsumsi pangan seorang penduduk/tahun. Dengan demikian kompetisi permintaan jagung untuk pangan dan bahan bakar akan makin meningkat. Di Amerika Serikat pada tahun 2006/07, sekitar 20% produksi jagung digunakan untuk etanol yang hanya mampu mensubstitusi 3% kebutuhan bahan bakar minyak di negara ini. Di Indonesia, penggunaan jagung untuk biofuel sebaiknya dihindari, dan diganti dengan komoditas lainnya seperti jarak pagar (World Bank 2007b). Hal yang sama juga terjadi pada minyak makan, akibat naiknya harga minyak kelapa sawit di pasar dunia karena sebagian digunakan untuk biodiesel di Eropa dan beberapa negara lainnya.

Penelitian menunjukan bahwa pengembangan areal kelapa sawit dengan mengkonversi hutan dan lahan rawa akan menghilangkan fungsi hutan sebagai pengendali emisi gas rumah kaca (GRK) untuk beberapa lama. 
Dengan demikian, perluasan perkebunan kelapa sawit untuk produksi biodiesel kurang tepat dan berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan (World Bank 2007a).

Sumber : 
Gambaran Umum Ekonomi Jagung Indonesia 

 Faisal Kasryno1, Effendi Pasandaran1, Suyamto2, dan Made O. Adnyana2
1Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor




Senin, 27 Mei 2013

Sistem Tanam Legowo Dalam Budidaya Tanaman Jagung | Balitsereal Litbang Deptan RI

Sistem Legowo Dalam Budidaya Jagung
Sistem tanam legowo umumnya dikenal pada pertanaman padi sawah dengan tujuan utama untuk meningkatkan hasil gabah per satuan luas lahan. Ada beberapa tipe cara tanam legowo yang biasa diterapkan petani diantaranya tipe legowo (2:1), (3:1) dst. 

Tanam legowo 2:1 berarti setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar baris. Untuk menggantikan populasi tanaman pada baris yang kosong, jumlah tanaman pada setiap baris yang berdekatan dengan baris yang kosong ditambah sehingga jarak tanam dalam barisan menjadi lebih rapat. 
Sebagaimana diketahui, barisan tanaman padi yang berada di bagian pinggir mempunyai pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan di bagian tengah. Atas dasar inilah maka diterapkan sistem tanam legowo agar sebagian besar tanaman menjadi tanaman pinggir dan diharapkan anakan yang dibentuk menjadi lebih banyak karena intensitas matahari yang diterima lebih optimal, dan akhirnya produktivitas dapat meningkat.

Legowo pada Tanaman Jagung
Selain pada tanaman padi, sistem tanam legowo ternyata juga dapat diterapkan pada pertanaman jagung. Berbeda dengan padi, tanaman jagung tidak membentuk anakan sehingga penerapan sistem legowo pada tanaman jagung lebih diarahkan pada:
  1. Meningkatkan penerimaan intensitas cahaya matahari pada daun dan diharapkan hasil asimilat meningkat sehingga pengisian biji dapat optimal.
  2. Memudahkan pemeliharaan tanaman, terutama penyiangan gulma baik secara manual maupun dengan herbisida, pemupukan, serta pemberian air.
  3. Memudahkan penanaman untuk pertanaman II dengan sistem tanam sisip yang dilakukan 2 minggu sebelum pertanaman I dipanen (khusus untuk wilayah potensial penanaman jagung 2 kali berturut-turut) sehingga menghemat periode pertumbuhan tanaman di lapangan.
Wilayah Pengembangan
Cara tanam legowo dapat diterapkan pada lahan sawah maupun lahan kering dengan tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan sumber air yang cukup. Mengingat maksud penanaman sistem logowo ini bukan semata untuk meningkatkan hasil, maka penerapannya diutamakan dan dikaitkan dengan upaya peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Dengan peningkatan IP maka hasil panen dapat meningkat dan pengelolaan lahan menjadi lebih produktif.

Menentukan Jarak Tanam
Anjuran populasi tanaman untuk jagung adalah berkisar antara 66.000 – 71.000 tanaman/ha. Untuk dapat tercapainya populasi tersebut, maka jarak tanam biasa yang diterapkan adalah 75 cm x 20 cm (1 tanaman/lubang) atau 70 cm x 20 cm (1 tanaman/lubang). 
Pada wilayah yang mempunyai masalah tenaga kerja, dapat diterapkan jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 tanaman/lubang) atau 70 cm x 40 cm (2 tanaman/lubang). 

Jika penanaman dilakukan dengan cara tanam legowo, agar populasi tanaman tetap berkisar antara 66.000 – 71.000 tanaman/ha, maka jarak tanam yang diterapkan adalah sebagai berikut:
  1. (100 - 50) cm x 20 cm (1 tanaman/lubang) atau (100 – 50) cm x 40 cm (2 tanaman/lubang) (populasi 66.000 tanaman/ha) (Gambar 1)
  2. (100 - 40) cm x 20 cm  (1 tanaman/lubang) atau (100 – 40) cm x 40 cm (2 tanaman/lubang (populasi 71.000 tanaman/ha) (Gambar 2).
Cara A diterapkan jika varietas jagung yang ditanam mempunyai penampilan tanaman yang tinggi dan helai daun terkulai, sedangkan cara B diterapkan jika tanaman mempunyai tipe tumbuh pendek dan helai daun tegak. 

Jarak tanam dalam barisan adalah 20 cm atau 40 cm. Jika menggunakan jarak tanam 20 cm maka satu tanaman per lubang, dan jika jarak tanam 40 cm jumlah tanaman dua per lubang.






















Untuk penanaman berikutnya (pertanaman kedua) maka sistem tanam sisip dapat diterapkan, yaitu dengan menanam pada barisan kosong pertanaman dua minggu menjelang pertanaman I dipanen (lihat Gambar 2). Dengan penerapan tanam sisip maka ada penghematan waktu pemanfaatan lahan, dan juga pemanfaatan air. Cara penanaman untuk pertanaman II, seperti pada Gamar 2.




Sumber : Balai Penelitian Tanaman Serealia Litbang Deptan Indonesia

Informasi perihal Sistem Tanam Legowo dapat menghubungi :
Balai Penelitian Tanaman Serealia
Jl. Dr. Ratulangi 274 Maros Sulawesi Selatan, Indonesia
Telp. (0411) 371529-371016
Fax. (0411) 371961
e-mail: balitser@yahoo.com

Minggu, 26 Mei 2013

Harga Jagung Pembelian BNS Stabil di Level Rp. 3.000,- per Kg | Harga per Tgl. 27 Mei 2013

Menyikapi panen jagung yang sudah dimulai dibeberapa sentra tanaman jagung seperti di Purwodadi, Grobogan, dan Sukolilo Jawa Tengah, juga di Ngawi Jawa Timur, BNS membuka harga pembelian pada level Rp. 3.000,- per kg untuk jagung pipil kering dengan Kadar Air 17%.


Selalin jagung kering, mulai musim panen 2013 , BNS juga melakukan pembelian jagung pipil basah.

Harga jagung pipil basah, dengan Kadar Air maksimal 28% dibuka pada harga Rp. 2.200,- per kilogram
Tidak menutup kemungkinan bila jagung yang dijual dari petani masih berkadar air diatas 28%, BNS masih bersedia membelinya dengan harga antara 1.900 - 2.100 per kilogram.

Pembelian jagung basah dilakukan BNS di gudang Megawon Kudus. Keterangan dan informasi dapat diperoleh dengan menghubungi sdr Aris Mustakim di nomer hp 085339824117 dan sdr Ngarisan di nomer hp 081225122191.

Penjual yang tidak dapat mengirim jagungnya ke gudang BNS di Kudus dapat mengajukan penawaran jual dengan harga pengambilan di lokasi penjual. Secara umum, bila BNS harus mengambil jagung yang dibeli ke lokasi penjual, maka harga belinya tentu lebih murah karena BNS menanggung biaya transpot dan operasional untuk pembelian tersebut.

 
HARGA PEMBELIAN BNS
UNTUK KOMIDITI JAGUNG PIPILAN
BERDASARKAN STANDAR KADAR AIR
Harga per Hari Senen Tanggal 27 Mei 2013
Harga dapat berubah sewaktu-waktu
%  KADAR AIR
POTONGAN %
HARGA FINAL
HARGA PEMBELIAN
SESUAI KADAR AIR



17.00 %
0%
3.000
17.01 - 17.50
0,60%
2.982
17.51 - 18.00
1,20%
2.964
18.01 - 18.50
1,80%
2.946
18.51 - 19.00
2,40%
2.928
19.01 - 19.50
3%
2.910
19.51 - 20.00
4,00%
2.880
20.01 - 20.50
5,00%
2.850
20.51 - 21.00
6,00%
2.820
21.01 - 22.00
8,50%
2.745
22.01 - 23.00
11,00%
2.670
23.01 - 24.00
13,50%
2.595
24,01 - 25,00
16,00%
2.520
25,1 - 26,00
19,00%
2.430
26,01 - 27,00
22,00%
2.340
27,01 - 28,00
25,00%
2.250
LEBIH dari 28,01%
35%
1.950



KETERANGAN :


1. Harga ditetapkan sesuai tabel setelah dilakukan pengecekan
kadar air dengan tester alat pengukur kadar air.




2. Harga tersebut adalah harga pembelian loco gudang BNS Kudus
Lokasi Gudang : Ds. Megawon Kec. Jati Kab, Kudus Jawa Tengah.



3. Pembayaran Tunai setelah bongkar muatan dan timbang.



4. Penjual menanggung ongkos bongkar muatan sebesar Rp.10,-/Kg.



5. Standar Jagung pipil sesuai ketentuan SNI Jagung, yaitu :
a. Kadar Air maksimal 17%.


Kadar air lebih dari 17% dikenakan potongan harga sesuai tabel.
b. Kadar Jamur maksimal 1%


c. Kadar Biji Mati maksimal 1%

d. Kadar Kotoran/ benda asing maksimal 2%




6. BNS juga bisa melakukan pembelian dengan cara mengambil
barang ke lokasi penjual, dengan ketentuan :

6.1. Harga beli dikurangi biaya transportasi sesuai jauh dekatnya
lokasi penjual dengan lokasi gudang BNS di Kudus.

6.2. Biaya tenaga muat barang keatas truk ditanggung penjual.
6.3. Bila harus "melangsir" dalam pengambilan barang dikarenakan
lokasi penjual tidak dapat dijangkau oleh kendaraan truk, maka biaya
"melangsir" tersebut menjadi tanggungan penjual.

6.4. Pembayaran tunai di lokasi penjual dilakukan setelah timbang
dan muat barang keatas truk.